September 21, 2021

EC

Belajar terus, pastikan selalu merasa haus

Yuk Intip Sejarah Gunung Bromo Yang Sudah Melegenda

4 min read

pexels.com

Wisata Bromo pada jaman dahulu kala adalah wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Konon ceritanya Majapahit mengalami serangan dari berbagai daerah penduduk pribumi, mereka kebingungan untuk mencari tempat tinggal. Setelah berunding dan mencapai kesepakatan, akhirnya terpisah menjadi 2 bagian yang pertama menuju ke Bromo, kedua menuju ke Bali. Seiring waktu sejarah Gunung Bromo ini berkembang menjadi wisata yang kini diminati wisatawan.

Sejarah Bromo dan Asal Usul Masyarakat Tengger

Bromo selain sebagai tempat wisata yang memiliki daya tarik, dibaliknya menyimpan sejarah yang cukup unik. Berkaitan dengan asal-usul gunung Bromo yang sudah melegenda ceritanya, dan hingga kini masih dipercaya oleh penduduk setempat. Nama gunung Bromo berasal dari bahasa Sansekerta atau Jawa Kuno, dari asal kata “Brahma” yaitu salah satu nama dewa yang diagungkan dalam agama Hindu. Suku setempat meyakini gunung Bromo sebagai gunung yang suci.

Masyarakat asli Bromo disebut suku Tengger, yang terkenal di mata wisatawan sebagai suku yang memegang teguh adat istiadat. Setahun sekali masyarakat sekitar rutin mengadakan upacara adat, yang disebut Upacara Kasada Tengger. Upacara diadakan pada tengah malam hingga menjelang subuh, saat setiap terjadi bulan purnama pada bulan kesepuluh dan sesuai dengan penanggalan Jawa. Berlangsungnya upacara di sebuah pura bernama Pura Luhur Poten, letaknya berada di lautan pasir di bawah kaki Gunung Bromo sebelah utara.

Berdasarkan sejarah Gunung Bromo nama “Tengger” berasal dari perpaduan Rara Anteng dan Joko Seger. Pada jaman dahulu sepasang Rara Anteng dan Joko Seger merupakan sepasang kekasih, namun seorang kyai sakti bernama Kyai Bima terpikat kecantikan Rara Anteng. Saat Kyai Bima ingin menikahinya, Rara Anteng meminta syarat yaitu membuatkan sebuah danau dalam satu malam. Menjelang fajar Rara Anteng memukulkan palu hingga ayam berkokok, dan sang Kyai pun belum rampung menyelesaikan syarat tersebut.

Kyai Bima yang mendengar ayam berkokok hendak menyudahi pekerjaannya, namun sang fajar belum nampak di sebelah timur. Artinya pagi sebenarnya belum datang, Kyai Bima menjadi sangat geram, kesal dan marah. Pada akhirnya Batok Kelapa yang dipakai untuk mngeruk tanah dilemparkannya, dan jatuh dengan posisi telungkup. Tempurung kelapa inilah yang menjelma menjadi Gunung Batok, letaknya bersebelahan dengan Gunung Bromo.

pexels.com

Cerita Rakyat Dibalik Upacara Kasada di Tengger

Kegagalan Kyai Bima dalam mempersunting Rara Anteng, tentunya membawa berita suka cita sendiri. Ia pun melanjutkan hubungan dengan kekasihnya Joko Seger, dan menggelar pernikahan. Mereka hidup sebagai pasangan suami istri yang bahagia, dan saling mengasihi serta mencintai satu sama lain. Menurut sejarah Gunung Bromo pasangan ini membangun sebuah pemukiman, dan memerintah di kawasan Tengger dan dikenal sebagai “Penguasa Tengger Yang Budiman”.

Kata Tengger juga sering disebut Tenggering Budi Luhur, memiliki arti perdamaian yang abadi. Masyarakat Tengger saat itu hidup makmur dan damai namun sang penguasa tidak hidup bahagia, sebab pasangan Rara Anteng dan Joko Seger belum dikaruniai keturunan. Kemudian pasangan ini naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan, meminta kepada Yang Maha Kuasa agar segera diberi keturunan.

Saat khusyuk bersemedi tiba-tiba terdengar suara gaib yang mengatakan bahwa doa mereka terkabul, namun dengan syarat si anak bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo. Pasangan Rara Anteng dan Joko Seger pun menyanggupinya, kemudian lahirlah 25 putra-putri. Konon dari cerita sejarah gunung Bromo beredar pasangan ini ingkar janji, Dewa menjadi sangat marah dan mengancam akan melimpahkan malapetaka ke desa Tengger.

Kemudian malapateka benar-benar terjadi saat itu keadaan desa menjadi gelap gulita, hingga kawah Gunung Bromo menyemburkan api. Kusuma anak bungsu Rara Anteng dan Joko Seger tiba-tiba lenyap dari pandangan, tenggelam di lautan api yang kemudian masuk ke kawah Bromo. Bersamaan hilangnya Kusuma terdengarlah suara gaib dari para Dewa, mengutus seluruh masyarakat Tengger untuk melakukan upacara setiap bulan Kasada pada hari ke-4. Agar kehidupan Tengger menjadi damai dan tentram.

Hingga kini upacara Kasada menjadi ikon wisata Bromo yang menarik wisatawan, kebanyakan ingin menjadi saksi asal usul Gunung Bromo ini. Upacara Kasada mensyarakatkan untuk menyerahkan sesaji berupa hasil bumi yang dipersembahkan kepada Hyang Widi, yang diletakkan di kawah Gunung Bromo. Sampai sekarang kebiasaan adat ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger, dan diadakan di Poten lautan pasir di kaki Bromo.

pexels.com

Penduduk Tengger yang Terkenal Ramah

Menilik dari kisah sejarah Gunung Bromo masyarakat Tengger terkenal dengan kerukunannya, jarang ditemukan terjadi perselisihan antar sesama suku. Hal ini karena suku Tengger mempunyai kepercayaan dan berpedoman pada nilai luhur nenek moyang. Antar penduduk hidup damai dan saling berdampingan, sebuah hubungan sosial yang harmonis dan bisa diadopsi untuk kehidupan sehari-hari.

Banyak wisatawan yang betah jika berkunjung ke Bromo, sebab masyarakat Tengger begitu menghargai pengunjung. Rata-rata mereka menyambut para wisatawan dengan senyum ramah dan pembawaan yang menyenangkan. Mereka tolong menolong untuk membantu pengunjung yang kesulitan, misalnya saat hendak menuju trek puncak Bromo. Bahkan mengajak untuk menikmati hasil bumi bersama.

Cerita Terdahulu yang Menjadi Objek Wisata

Kebanyakan wisatawan hanya tertarik melihat keistimewaan Gunung Bromo, tanpa memedulikan legenda apa yang mengikuti dibelakangnya.. Kisah tentang sejarah Gunung Bromo yang menjadi sebuah kearifan lokal, kini menjelma sebagai daya tarik wisata. Mempelajari asal usul Bromo dan mengambil nilai positif dari kehidupan para nenek moyang terdahulu. Memberikan pengetahuan dan wawasan baru selain hanya menikmati indahnya panorama Bromo.

Bromo menjadi destinasi wisata layaknya surga bagi para wisatawan. Menampilkan landscape alam yang indah, perpaduan gunung yang menjulang tinggi dan birunya langit. Belum lagi hamparan pasir dan padang rumput hijau, kian menambah keistimewaan wisata Bromo. Pengunjung yang tidak hentinya berdecak kagum melihat perpaduan semburat fajar saat pagi hari, salah satu pesona yang ditampilkan Bromo.

Gunung Bromo dan suku Tengger menjadi cerita rakyat yang melegenda. Keduanya membentuk nilai budaya yang memiliki daya tarik wisata. Menjelang musim liburan open trip bromo akan menawarkan sebuah jasa wisata, untuk menjelajahi seluruh kawasan Bromo. Mengajak anda mengunjungi spot-spot cantik dengan view pemandangan yang elok, dan mempelajari ciri khas budaya Tengger.

 

 

 

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.